Jual Buku Novel Pangeran Sambernyawa

Rp 85.000

1 in stock

Category: Tag:

Description

JUAL BUKU PANGERAN SAMBERNYAWA

Judul buku : SAMBERNYAWA (Pemberontakan Tanah Jawa).

Penulis : Sri Hadidjojo

ISBN: 978-602-72793-7-7
Terbit: Oktober 2015
Dimensi :14 x 21 cm / Isi 364 hlm.

Tanah jawa pada abad 18 ibarat belanga pertumpahan darah.Pertikaian di Kerajaan Mataram berdampak pada buruk pada rakyat jelata karna terjadi perang , pertikaian dan petampokan.

Ditengah kekacauan itu , muncul kesatria yang gagah berani bernama R.M.Said putra Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura .Sejak kecil Raden Said hidup terlunta-lunta karena ayahnya dibuang oleh kompeni belanda ke Srilangka.
Nasib buruk yang dialami Raden Said telah menempanya untuk berjuang membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan.
Takdir telah mempertemukannya dengan seorang empu misterius di Gunung Kidul yang mewariskan Aji Brajamusti kepadanya.
Dengan kesaktiannya,R.Said mampu menaklukan para pendekar pilih tanding untuk bergabung kedalam barisan pemberontakannya.
Berlatar peristiwa pemberontakan orang Jawa dan Tionghoa pimpinan Sunan Kuning yang memgakibatkan jebolnya keraton Kartasura serta keganasan tentara R.Said yang sudah bànyak memakan korban dari tentara kompeni,R.Said diberi julukan PANGERAN SAMBERNYAWA oleh kompeni.

 

Sekilas Kisah Pangeran Sambernyawa :

Penyebutan R. Said menjadi Mangkunegara diambil dari nama ayah beliyau, yaitu Arya Mangkunegara. Karena  Arya Mangkunegara sangat membenci Kompeni Belanda, dan menentang kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwana I) maka belanda menangkapnya dan dibuang ke Srilangka.Oleh sebab inilah, RM Said berkobar semangatnya untuk melawan Kompeni belanda. Kehidupan R. Said selalu berpindah-pindah dan lebih banyak bersembunyi di hutan-hutan. Sehingga tiba saatnya ketika PB II meninggal dunia, kesempatan itu digunakan untuk mengangkat Mangkubumi menjadi raja di Mataram Ngayogyakarta dengan patihnya mangkunegara (1749) walaupun tidak diakui oleh Kompeni.

Sedangkan Kompeni belanda mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai Raja dengan gelar PB III di Matram Surakarta. Dalam kurun waktu sembilan tahun bersama Mangkubumi, Mangkunegara ahirnya berselisih paham juga dan memutuskan untuk berjuang sendiri di daerah pedalaman yogyakarta dan sekitarnya. Perseteruan antara Mangkubumi dengan Adipati Anom yang sama-sama mengaku Raja akhirnya dimanfaatkan oleh Kompeni belanda dengan membuat suatu Traktat perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti (1755) dengan hasil perjanjian adalah pembagian 2 wilayah Kesultanan Mataram, bagian timur menjadi Mataram Surakarta Hadiningrat dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III sedangkan bagian barat menjadi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan raja Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo.

Riwayat perang mangkunegara yaitu:

Pada tahun 1741-1742 bergabung dengan Laskar cina , kemudian pada tahun 1743-1752 bergabung dengan Mangkubumi. Selama masa perang itu, Mangkunegara telah bertempur sebanyak 250 kali dan berkali-kali mengkunegara selamat dalam penyergapan, beliyau berhasil membina pasukan militan yang sangat ditakuti oleh musuh dan berhasil membinasakan banyak tentara musuh sehingga dijuluki “Pangeran Samber Nyawa. Didalam buku harian Mangkunegara, tecatat ada dua pertempuran besar yaitu :

Pertempuran besar pertama di desa Sitakepyak selatan Rembang . berhasil menewaskan pasukan musuh sebanyak 600 orang yang dilukiskan seperti semut yang berjalan tiada henti sedangkan prajuritnya yang tewas hanya 3 orang 29 luka-luka.(1756) . dalam perang ini tercatat oleh belanda telah melakukan serangan gabungan yaitu 200 serdadu belanda, 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta dan 400 Pasukan Surakarta. Bahkan kapten Ban Der Poll tewas terpenggal kepalanya dengan tangan kirinya di sambar oleh Pangeran Sambernyawa dan di berikan kepada selir Mbok Ajeng Wiyah selirnya sebagai tanda cinta Mangkunegara.

Pertempuran besar kedua yaitu di hutan dekat Blora pada tahun 1757. keganasan pasukan belanda yang menyerang dan menjarah harta orang desa membuat marah Sambernyawa yang akhirnya menyerang balik Kraton Yogyakarta dan mendudukinya hingga malam, bahkan patihnya yang bernama Joyosudirgo dipenggal kepalanya. Kejadian ini membuat marah pamanya atau mertuanya Mangkubumi dan menghadiahkan siapa saja yang berhasil membunuh Sambernyawa akan di bayar 500 real.

Kehebatan Pangeran Sambernyawa tidak terkalahkan oleh siapapun hingga akhirnya belanda meminta bantuan kepada Paku Buwono III agar bisanya mengajak berunding secara kekeluargaan. Dan akhirnya atas permintaan secara kekeluargaan pula Mangkunegara berhenti berperang dihutan dan diakui kehebatannya dan akhirnya mendirikan istana di pinggiran Kali Pepe pada 1756 dan tempat inilah yang sekarang terkenal dengan nama istana Mangkunegara.

Kemudian dibuat perjanjian Salatiga 17 maret 1757 dengan isi mangkunegara diangkat sebagai Adipati Miji (mandiri ) yang pangkatnya sejajar dengan Sultan dan Sunan dan daerah kekuasaanya meliputi: Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyun, Gunung Kidul, Pajang utara dan Kedu. Mangkunegara wafat pada 28 Desember 1795.